Sepi dalam Kehebohan Pandemi, Semua Kesaktianku Habis, Aku Butuh Ditolong!

indonesiasatu, 10 May 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

JAKARTA - Ini adalah hari terakhir aku buka lapak kaki lima di depan tangga Blok A Tanah Abang, karena besok Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah mulai diterapkan di Jakarta. Hari ini mungkin saja hari terakhir aku berjualan di sini, karena tidak tahu lagi kapan pandemi ini berakhir, dan sampai kapan selesainya PSBB. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk dapatkan sesuap nasi dan menafkahin anak istriku selain selalu optimis selalu ada jalan atau berusaha bersahabat dengan kesusahan yang akan datang di depan mata.

Aku dah 20 tahunan lebih berjualan di sini, dan selalu di sini karena belum punya kemampuan atau belum rezeki mampu menyewa tokoh seperti kawan-kawan seperjuangan yang telah jadi jutawan. Pendapatan sehari-hari dari jualan hanya bisa memperpanjang hidup dari hari ke hari, masih tak jauh beda dengan ayam yang harus mengkais rezeki dari remah-remah yang tercecer. Aku juga begitu, rezekiku adalah remah-remah tercecer dari para penjual besar yang menempati toko nyaman dengan omzet  ratusan juta per hari.

Dalam kegentingan ini ini, tak ada yang bisa aku lakukan selain berharap dapat bantuan dan pertolongan. Mau pulang kampung uang pun belum terkumpul, dan saat ini juga Presiden Jokowi juga sudah melarang mudik, kecuali pulang kampung. Itu dia, jangankan mudik, pulang kampung pun aku tak mampu. Untuk pulang kampung aku harus punya uang setidaknya punya uang Rp.6 juta, untuk tiket pulang bersama anak dan istriku serta bayar ongkos travel untuk sampai di kampung yang jaraknya 3 Jam dari ibu kota provinsi.

Walaupun aku sudah lama di Jakarta, namun KTPku masih KTP kampung yang belum pernah aku perbaharui, karena memang gak perlu diperbaharui, itu perkiraanku, karena KTP adalah untuk seumur hidup, aku tidak begitu peduli dengan administrasi kependudukan, karena tidak mau jadi pegawai atau kerja yang membutuhkan SKCK atau yang mewajibkan aku untuk mengubah KTPku jadi KTP Jakarta. Itulah kebodohanku, pikiranku sangat sederhana, dan juga  selama ini aku juga tidak begitu berharap dikasihani oleh orang lain, termasuk kepada temanku yang sudah kaya raya dan jutawan, karena kutahu berharap itu menyakitkan, apa lagi meminta dan tidak dikasih.

Saat ini aku baru tahu arti sebuah KTP, itu bukan sekedar nama dan identitas diri yang ditulis di atas kartu plastik, tapi itu juga sebagai alat untuk administrasi RT/RW dan pemerintahan bagi warga gak mampu yang perlu diberikan bantuan sosial dengan berbagai macam bentuknya, aku pun juga gak paham tentang itu. Para teman dan tetanggaku yang juga gak mampu tapi KTPnya beralamat di DKI Jakarta semua dapat bantuan sembako, BLT, BST, dan bantuan-bantuan lainnya, aku hanya bisa melihat, karena namaku tidak ada dalam daftar warga Jakarta yang perlu dikasihani dan disantuni itu.

Teringatlah aku kepada temanku yang sudah kaya raya dan jutawan, pengin rasaya aku menelpon dia untuk minta bantuan, tapi jariku tertahan, tak mampu aku untuk memencet nama yang ada dalam daftar nomor telepon yang ada di HPku. Malu rasanya untuk berkelu-kesah atau curhat, apa lagi mau pinjam uang untuk bayar sewa rumah dan beli beras untuk makan anak dan istriku. Malu bangat rasanya kalau aku sudah curhat dan minta bantuan, tapi temanku punya alasan untuk tidak bisa membantuku.

Rasanya hidup ini sunyi dan sepi, semua kesaktianku rasanya hilang, semua kartu pertolonganku lenyap, yang bisa aku lakukan saat ini hanya berdoa dalam hati, dan selalu memperlihatkan senyuman kepada siapa saja yang melihatku, dan berharap ada keajaiban datang untuk memberiku Teko Aladdin, sehingga aku bisa melakukan permintaan yang langsung dikabulkan. (Aamiin)

Jakarta, 10.05.2020

Teruntuk Buat Temanku
Aku hanya bisa menuliskan deritamu kawan

       Hendri Kampai
         Ketua Umum
Jurnalis Nasional Indonesia
*Organisasi Profesi Jurnalis*

 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu