Berfikir Konspiratif: Corona Itu yang Besar Bahayanya, Atau Propagandanya?

indonesiasatu, 08 May 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

JAKARTA - Musuh yang paling ditakuti adalah musuh yang tidak terlihat. Itulah Corona. Saat ini semua orang adalah suspect (dicurigai). Ditambah lagi dengan istilah Orang Tanpa Gejala (OTG) kecurigaan makin menjadi-jadi, karena semua orang tidak sakit atau orang sehat adalah orang tanpa gejala dan pantas untuk dicurigai.

Karena keadaan curiga mencurigai ini sudah massive, adalah juga tidak salah untuk curiga, ada apa ini? Penyakit akibat Corona atau Covid-19 cepat menyebar, dan serangannya mematikan. Sekarang kita lihat data statistiknya yang tiap hari dipublikasikan, berapa yang terinfeksi, berapa mati, dan berapa yang sehat? 

Ayo kita bedah satu-satu. Berapa yang terinfeksi dibandingkan dengan jumlah penduduk indonesia atau dunia? Tidak signifikan! Berapa yang mati dibanding dengan yang  terinfeksi? Sedikit Sekali! Terus kita lihat yang sembuh, ada dan banyak! Katanya obatnya belum ada, kok bisa sembuh? Disini siapa yang berbohong?

Kita lihat justifikasinya, banyak dokter yang meninggal karena Covid-19. Ok itu benar, dan harus ada yang meninggal karena Covid-19 karena Covid-19 itu berbahaya. Tapi perlu dikaji dan diperhatikan dengan seksama bahwa dokter yang merawat penderita Covid-19 besar kemungkinan matinya karena Codiv-19 juga, karena 24 jam berhubungan dengan Covid-19. Itu sama saja dengan tentara di medan perang, besar kemungkinan mati karena tertembak, karena kerjanya tembak-menembak dengan musuh. Sekarang bandingkan dengan petani atau pemulung yang jorok sekalipun mati nggak mereka karena Covid-19? ngggak!

Saat ini sangat santer istilah Orang Tanpa Gejala (OTG), sehingga memunculkan kecurigaan massal terhadap orang sehat. Saat ini orang sehat mencurigai orang sehat lainnya sebagai pembawa virus corona. Istri sudah mencurigai suaminya yang baru pulang ke rumah. Ibu mencurigai anaknya yang baru pulang kampung. Saudara mencurigai saudara lainnya yang berkunjung untuk silaturahmi. Tak ada kenyaman lagi di dunia ini, semua saling memandang curiga. Disinilah konspirasi itu muncul. Apa tujuannya?

Sopir tidak bisa lagi mengangkut penumpang, pegawai tidak ke kantor, Pabrik tutup, PHK dimana-mana, anak-anak tidak bisa lagi ke sekolah, para pedagang berhenti jualan, para jamaah tidak bisa lagi ke tempat ibadah, perantau tidak bisa mudik, interaksi sosial berhenti, ekonomi mati total, karena transaksi tidak ada lagi, baik jual maupun beli, kecuali transaksi untuk makan saja. Apa maksudnya ini?

Ekonomi mati, hutang menumpuk, kelaparan sudah pasti, jumlah orang miskin bertambah secara drastis, kerusuhan menunggu waktu. Mau beli makanan tak ada uang, kalau ada uang makanan yang mau dibeli gak ada, karena gak ada yang jualan, toko-toko tutup. 

Kalau orang tadinya kaya dan hidup seperti orang kaya, namun gara-gara Corona tiba-tiba miskin, itu lebih berbahaya dari orang miskin lama yang sudah terbiasa hidup dengan kemiskinan. Orang miskin lama sudah terbiasa menahan lapar, bagaimana dengan orang miskin baru, yang tadinya hidup berlimpah dengan makanan enak, dan sekarang harus hidup jadi orang miskin. Rusuh, dan lebih berbahaya, karena mereka mengerti hukum darurat, dalam keadaan darurat semuanya halal, hukum tidak berlaku, yang terjadi chaos.

Keadaan jadi tidak terkendali, setiap orang berusaha menyelamatkan diri sendiri, keluarga, atau kelompoknya, yang akan terjadi hukum rimba, siapa yang kuat akan selamat, sesuai dengan agenda tersembunyi orang-orang yang menginginkan bahwa yang hidup di tatanan dunia baru hanya orang-orang kuat dan produktif saja. Mengerikan! 

Jakarta, 08.05.2020

Hendri
Ketua Umum
Jurnalis Nasional Indonesia
*Organisasi Profesi Jurnalis*

 

 

 

 

 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu