Proyek Peningkatan Jalan Seiko-Pitung Penanian Terkesan Lambat, Ini Kata' Konsultan Pengawas

INDONESIASATU.CO.ID:

TORAJA UTARA - Proyek Peningkatan Jalan Seiko-Pitung Penanian (Sepit) yang dilaksanakan di jalan poros penghubung antar Desa Karre dan Desa Pitung Penanian, tepatnya di wilayah Lembang Nanna dan perbatasan Desa Karre, Kecamatan Nanggala, Kabupaten Toraja Utara, terkesan lambat.

Pasalnya, sesuai kontrak kerja yang tertera di papan proyek pembangunan, waktu pelaksanaan 150 hari kalender. Tapi pembangunan Seiko-Pitung Penanian star awal pengerjaan dimulai pada 8 Oktober 2018. Dan star awalnya pun sudah terkesan lambat. Hingga masuk awal November 2018 progres tersebut baru mencapai bobot fisiknya kurang dari 4 %.

Adapun Proyek Peningkatan Jalan Seko-Pitung Penanian dikerjakan oleh PT Citra Putera La Terang sebagai perusahaan pemegang kontrak. Dan proyek tersebut nantinya jika terselesaikan menelan anggaran Senilai Rp4.412.638.076 tahun anggaran 2018. 

Pantauan Indonesiasatu.co.id Sabtu (3/10/2018), proses pembangunan masih sementara berlanjut, sampai saat ini item yang sedang berjalan yaitu tahap normalisasi. Menurut salah seorang pengawas lapangan, Nano, dari perusahaan Konsultan Pengawas, CV Mahamelona Konsultan.

"Progressnya memang begitu, 3,40-an persen," ujar Nano ketika dihubungi melalui sambungan telepon genggam, Sabtu siang (3/11). Untuk diketahui, masalahnya kata Nano, karena alat (berat) lambat masuk ke lokasi. Praktis proyek tersebut lambat dikerja. Tidak jelas penyebab lambatnya mobilisasi alat ke lokasi.

Namun, dari pantauan di lapangan dan berdasarkan bocoran yang ada, lambatnya alat dan action di lapangan itu diduga karena ada kisruh tentang siapa sesungguhnya pelaksana pekerjaan. Hal ini hanya mengulur-ulur waktu.

"Sampai sekarang juga kami tidak tahu pelaksananya yang mana. Artinya, kalau pelaksana lapangan biasa anak-anak bilang yang itu Pak Jon," ucap Nano.

Di tempat yang berbeda, menurut PPK, Buyang Tangkearung Paembonan, DIrektur yang juga sekaligus pelaksana proyek tersebut adalah Robert Parumbuan. Proyek jalan Seko-Pitung Penanian ini, kata Buyang, terdiri dari beberapa item pekerjaan.

Buyang menceritakan "Pekerjaan utama beton. Kemudian pekerjaan lain ada talut, drainase dan duikker," sebutnya. Hal itu diuraikan Nano, Betonnya, adalah K250 dengan lebar 4 meter dan tebal 20 cm. "Ada galian tanah untuk pelebaran dan ada bahu jalan," jelas Nano.

Ditambahkan, untuk volume panjang 2,3 km, terdiri dari normalisasi (dasar) klas C dan beton. Normalisasi menggunakan sirtu kali. Sedang untuk beton menggunakan cipping, pasir dan semen. "Sekarang sedang berjalan pekerjaan normalisasi," ungkap Nano. 

Kadis PUPR Torut, Yorry Lesawengen, juga mengakui rendahnya progress pekerjaan Seko-Pitung Penanian. "Kita sudah evaluasi di TP4D kemarin (maksudnya, Kamis 1/11). Jadi semua paket yang progressnya masih kecil kita kasih waktu 2 minggu untuk kejar progress. Memang lambat, nanti saya masuk baru mereka mulai kerja. Hampir 2 bulan, terlalu lama dipending," tutur Yorry kepada awak media ini, via ponsel, Sabtu sore.

Pihaknya, kata mantan Kepala Badan Bencana Daerah Torut ini, telah sepakat dengan TP4D bahwa jika tidak mencapai progress seperti yang diharapkan, TP4D yang akan mengeluarkan surat teguran.

"Bahkan bisa sampai ke surat untuk memutus kontrak. Kata Yorry, teguran ke-3 baru pemutusan kontrak. Saya juga tidak akan proses pencairan kalau tidak ada rekomendasi dari kejaksaan," tandasnya.

Pelaksana Proyek Seko-Pitung Penanian sendiri telah mendapatkan surat teguran (ST) pertama. Tapi, kata Nano, sebenarnya sudah dua kali teguran. "Yang pertama sebelum dikerja, karena sudah jalan kontraknya belum dikerja. Pada waktu itu bulan Agustus. Teguran ini melalui surat karena waktu itu belum ada orang di lapangan. Kemudian teguran kedua saat pelaksanaan dan berjalan lambat," jelas Nano.(*)

 

Editor: Udn

 

  • Whatsapp

Index Berita