Motif Batik Lokal yang Diakui Internasional

NEWSPAPER.CO.ID: JAKARTA - Sebagian besar masyarakat, boleh jadi sudah lupa dengan permainan tradisional anak-anak. Egrang, congklak, dakon, petak umpet dan beberapa lainnya, merupakan satu diantara puluhan jenis permainan tradisional anak yang nyaris punah, apalagi di kota-kota besar.

Adalah Neng Mas yang mencoba mengangkat dan mengingatkan kembali permainan tradisional anak melalui media batik, yakni batik dengan ragam motif dan tema permainan tradisional anak. Melalui Esmod Jakarta yang bertajuk “Bangga Batik Indonesia” Neng Mas menyampaikan tema permainan tradisional Dolanan “The Heritage of Indonesia”.

“Neng Mas adalah batik untuk anak, dengan desain yang smart casual untuk anak, memiliki motif batik cap dan tulis khusus dengan tema permainan tradisional Indonesia,” ujar Poetrie Hanjani, pemilik label Neng Mas di Jakarta, pekan lalu. Poetrie menuturkan, material yang digunakan untuk semua produk Neng Mas adalah katun premium yang mengutamakan kenyamanan bagi anak.

Poetrie berharap, anak-anak dan generasi muda bisa lebih mencintai batik sebagai pakaian sehari-hari. Pemerintah pun diharapkan bisa terus merangkul, memberikan dukungan dan peluang kepada para desainer pemula atau yang sedang mulai mengembangkan karyanya, dengan rutin menggelar event nasional dan internasional.

“Harapannya, selain orang-orang dewasa, anak-anak juga semakin mencintai batik yang merupakan warisan bangsa,” ujarnya. 

Tampil di London

Desainer Poetrie Hanjani melakukan inovasi dalam mengembangkan motif batik. Inovasi itu dengan mengangkat ragam permainan tradisional anak-anak untuk motif batik. Ada permainan congklak, balap karung, yoyo, hingga dompu (engklek), menghiasi kain batiknya.
Koleksi busana anak-anak yang didesain dari batik bermotif unik itu telah mencuri perhatian pasar muslim London di London Muslim Lifestyle Show (LMLS) 2017 yang berlangsung di Olympia, beberapa waktu lalu.

“Motif permainan tradisional anak-anak diangkat berdasarkan keprihatinan saya soal permainan tradisional yang sudah jarang dimainkan anak-anak. Mereka lebih senang bermain gadget. Dari situ, saya ingin mempopulerkan kembali permainan tradisional dengan menjadikannya motif batik,” kata Poetrie Hanjani.

Poetri pun optimistis, koleksinya ini akan merebut pasar busana muslim anak-anak di London. Pasalnya, motif ini sangat baru, juga masyarakat London maupun Eropa suka dengan motif tradisional yang kaya warna, kaya kreasi dan seni.

“Sebelumnya saya melihat, busana muslim untuk anak-anak sama dengan busana muslim untuk dewasa dalam bentuk mini. Bahkan bahannya pun sama dengan bahan untuk dewasa. Padahal kalau untuk anak-anak lebih cocok bahan katun yang adem dan warna cerah, apalagi motif permainan tradisional kan lucu,” kata Hanjani yang mengusung brand NengMas by Hanjani.

Neng Mas tampil dalam potongan baju terusan detail kantong-kantong lucu serta padanan tunik dan celana panjang. Warna yang ditawarkan snagat khas anak-anak, mulai kuning, oranye, dan hijau. “Untuk LMLS 2017, saya membawa lima koleksi,” tandas Hanjani.

Geliat pertumbuhan industri fesyen Tanah Air tidak diragukan lagi. Ini pula yang akan dijalani desainer lokal Lily Mariasari. Desainer pemilik brand Elemwe ini menampilkan koleksinya di LMLS 2017 beberapa waktu lalu.

Lily menampilkan koleksi sesuai DNA-nya, yakni batik Betawi. Sekitar 10 koleksi bergaya party casual akan tampil di London Bridge dan Abbey Road.

Sentuhan tradisional Betawi, seperti pohon salak, bajaj, Monas, elang bondol dam ondel-ondel akan melekat pada batik dan disandingkan dengan material polos, seperti katun. Kemudian untuk siluetnya, sang perancang akan menampilkan gaun yang terkesan elegan dan minimalis.

“Pada kesempatan ini saya akan menampilkan ciri khas saya yakni batik Betawi, karena ini memiliki daya tarik tersendiri bagi orang asing,” ujar Lily saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, pekan lalu.

Lily tidak sendiri, desainer lain yang menginjak panggung yang sama adalah Poetrie Hanjani. Desainer pemilik label busana batik anak NengMas ini juga akan ikut meramaikan LMLS 2017.

Hanan sapaan akrabnya akan menampilkan 15 koleksi baju anak-anak dengan lima batik motif permainan tradisional dengan warna cerah. Motif-motif tersebut seperti congklak, balap karung, engklek, yoyo dan Bebentengan.

Adapun tujuan dan inspirasi batik ini dibuat untuk memperkenalkan sekaligus mengedukasi anak-anak agar mengenal permainan tradisional yang mulai tertinggal.

“Saya ingin memperkenalkan kembali permainan anak zaman dahulu yang masih tradisional kepada generasi mendatang dan melestarikannya dalam motif batik di busana anak-anak,” ucap dia. pur/R-1

Alat Pengolah Limbah Batik

Pada kesempatan berbeda, lima mahasiswa Universitas Indonesia (UI) berkolaborasi menciptakan Plato yaitu alat pengolah limbah batik portable, mudah digunakan pelaku industry, serta dapat mendegradasi limbah batik secara optimal.

“Industri Batik Pekalongan menjadi salah satu daerah pengamatan kami. Di kota Pekalongan, jenis industri batik yang mendominasi adalah home industry, yang tersebar luas di berbagai bagian Kota Pekalongan,” kata Sharfan, salah satu mahasiswa UI yang menciptakan Plato, di Kampus UI Depok, Senin (21/8).

Kelima mahasiswa tersebut adalah Nur Sharfan (Teknik Kimia), Ahmad Shobri (Teknik Elektro), Fadhila Ahmad Anindria (Teknik Kimia), Rickson Mauricio (Teknik Kimia), dan Muhammad Akbar Buana (Teknologi Bioproses).

Ia mengatakan pertumbuhan dari industri batik Pekalongan tidak diiringi dengan sistem pengolahan limbah yang baik. Jumlah IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah) komunal batik di Pekalongan baru ada tiga dengan kapasitas yang belum mampu menampung seluruh limbah produksi dari unit usaha batik.

Mengingat proses pengecatan dan pemberian warna pada kain menghasilkan limbah yang tidak sedikit jumlahnya dan berakhir dengan dibuang di sistem perairan setempat, maka kami peduli untuk mencari solusi akan masalah limbah tersebut.

“Alat yang kami ciptakan menggunakan teknologi elektrokoagulasi dan fotokatalis sehingga dapat mendegradasi limbah batik secara optimal,” katanya.

Di bawah bimbingan dosen Fakultas Teknik UI Profesor Slamet, Plato menjadi sebuah prototipe alat pengolah limbah portable yang dirancang sedemikian rupa agar mudah digunakan para pelaku home industry Batik.

Plato memiliki keunggulan diantaranya dapat digunakan secara mobile, dapat digunakan secara bergantian oleh tiap pelaku usaha dalam suatu kawasan tanpa harus mengumpulkan limbah hasil pencucian batik ke IPAL.

“Dengan demikian, jumlah limbah yang dibuang ilegal ke sungai dapat berkurang,” katanya.

Diharapkan alat ini mampu memberikan alternatif pengolahan limbah batik sehingga dapat menjadi solusi akan keresahan masyarakat di sekitar sungai. Ant/R-1

SUMBER: KORAN-JAKARTA.COM