Merubah Tradisi Membangun Kesadaran

INDONESIASATU.CO.ID:

Jurnalistik sangat mempengaruhi pemikiran masyarakat, apalagi saat ini semua serba instant dan mudah sekali diakses bagi siapa saja. Kecanggihan atau kemajuan teknologi menjadikan semua berita atau informasi mudah sekali tersebar, baik itu berita berdasarkan fakta hingga berita hoax sekalipun. Persepsi diatas asumi yang menyatakan kecepatan informasi atau berita disamakan dengan kecepatan cahaya, memang ada benarnya juga. Dalam hitungan detik, suatu berita atau informasi yang berasal dari Aceh dapat dibaca publik yang berada di Papua, semua itu tidak lepas dari teknologi yang sudah banyak digunakan masyarakat.

 

Publikasi di ruang lingkup level “Media Center Kodim”, harus dibangun secara profesional dan ada koneksi antara publik dengan pewarta. Koneksi ini harus dikorelasikan dengan media, karena tanpa media, mustahil koneksi publik dengan pewarta bisa terjadi. Pewarta yang dimaksud adalah personal yang ada di dalam Media Center Kodim, sedangkan publik, bisa diimplementasikan dengan berbeda penafsiran, dalam artian bisa terfokus hanya untuk lingkup “internal”, bisa menjangkau publik sekitarnya, dan mungkin juga melebar secara luas.

 

Suatu informasi atau berita perlu dicermati ,mana yang bisa menarik perhatian publik dan mana yang tidak. Karena tidak semua informasi atau berita bisa masuk kategori minat baca tinggi bagi publik, bahkan bisa jadi cuma minat baca sedang atau malah hanya minat baca rendah bagi publik. Semua itu harus diklasifikasi, mana pemberitaan yang hanya bersifat menunjukkan kegiatan atau agenda dari Kodim maupun Koramil dan mana yang bisa menjadi sorotan publik. Terlepas dari keterbatasan genre yang diusung dalam pemberitaan, kecermatan personal dalam melihat dan mendengar segala aktifitas, peristiwa maupun kasus yang ada di ruang lingkup kerjanya, sangat penting dan harus.

 

Pembuktian suatu liputan di era millennium ini atau serba berbau “instant” dengan mengandalkan internet sebagai sarana paling vital, perlu adanya “Revolusi”, dan revolusi ini mengaju pada keseimbangan antara publikasi berbentuk tulisan dengan bentuk video. Tulisan dalam artian suatu berita yang menginformasikan aktifitas yang dipandang perlu untuk dipublikasikan, setidaknya siapa dan apa atau bagaimana Kodim atau Koramil dalam kesehariannya. Sedangkan video sebagai pembuktian bahwa berita itu “Valid dan Akurat” untuk pembenaran. Publikasi bentuk tulisan dan video sangat perlu dan penting untuk memperluas akses Media Center Kodim melewati tradisi yang mungkin, “masanya sudah habis”.

 

Tradisi berupa publikasi hanya dalam bentuk tulisan disertai foto, memang tidak ada salahnya, tetapi tidak ada salahnya juga bila dikembangkan lagi, yaitu menambahkannya dalam bentuk video. Kepercayaan tidak bisa instant, terutama kepada operator media online (bukan milik Korem atau Kodim), semua perlu tahapan dan tahapan itu juga butuh waktu.

 

Kebuntuan publikasi menjadi “factor X” dari Media Center Kodim, ujung-ujungnya, publikasi hanya termuat di “blogger”, seperti blogspot atau wordpress dan sejenisnya. Disini peran Penrem, sangat dominan mendongkrak publikasi yang tersebar di Kodim-Kodim, tetapi semua itu ada “limited akses” yang tidak bisa dipungkiri.  

 

Media sosial menjadi “keyword” membuka akses yang mengalami kebuntuan, khususnya “youtube”, dan disinilah peran Media Center Kodim untuk merubah kesehariannya yang cuma sekedar mempublikasikan lewat tulisan dan foto, dalam konteks berita. Keberadaan video, tidak bisa dipisahkan dari alur visual yang mungkin tidak sempat atau hilang dari deretan huruf atau angka dalam tulisan. Mau tidak mau atau sadar tidak sadar, bentuk visual lebih meyakinkan ketimbang hanya berbentuk tulisan, apalagi dikemas secara profesional.

 

Sadar akan betapa pentingnya publikasi melalui media online, setidaknya tradisi yang sudah lama dilakukan, bisa dirubah atau diganti, tentunya masih dalam koridor yang umum. Daya magnet publikasi lewat visual, lebih memiliki ketertarikan untuk menginput publikasi Media Center Kodim, tetapi pendapat itu harus diimbangi dengan SDM serta kualitas maupun kuantitas suatu berita.

 

Harus diakui, mayoritas Media Center Kodim berlatarbelakang “citizen journalist” atau jurnalis warga, yang tidak memiliki kompetensi selayaknya jurnalis profesional, baik cara penulisannya maupun photography atau kelayakan mutualitas berita. Tetapi alasan klasik itu bisa dirubah secara perlahan tapi pasti, karena niat, tekad dan itikad, hakekatnya bisa dipersatukan. Untuk menutup kekurangan klasik ini, perlu ada bentuk publikasi lainnya ,dan saya sangat condong pada media sosial berjenis youtube yang mengusung publikasi bentuk visual.

 

Disamping itu, genre pemberitaan juga harus jelas dan bisa mengena perhatian publik, tidak asal-asalan hanya sekedar menambah kuota berita, tetapi lebih mengedepankan kualitas dan kuantitas. Sehingga tujuan awal dengan tujuan akhir bisa sesuai, yaitu menarik perhatian minat baca publik. Demikian juga besaran publikasi, juga harus diperhitungkan, konten berita apa yang bakal dipublikasikan, tidak asal besar-besaran publikasi hanya untuk kuota publikasi, melainkan menghindari image negatif dari si pemilik media online yang kemungkinan besar membawa dampak bagi komunikasi dan bantuan publikasi dikemudian hari. Dalam menulis berita, juga perlu diperhitungkan apakah tulisan tersebut bisa menyambung penglihatan dan pendengaran dari si penulis kepada si pembaca atau justru sebaliknya tidak jelas isi beritanya.

 

Perhatian publik juga sangat penting, karena tanpa publik, suatu konten berita Media Center Kodim tidak dapat merangkul media online. Demikian juga tanpa media online, publikasi Media Center Kodim tidak dapat menyentuh publik. Ketertarikan publik akan konten berita yang diusung Media Center Kodim haruslah “natural”, karena disinilah celah membuka kebuntuan publikasi.(Chandra yuniarti)

 

Penulis adalah Kapenrem 082/CPYJ

  • Whatsapp

Index Berita