Kemristekdikti dan AMINEF Perbarui Kesepakatan Beasiswa Fulbright-Ristekdikti

WARTAKAMPUS.COM: JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti (SDID) melakukan penandatanganan perpanjangan nota kesepahaman (MoU) dengan American Indonesia Exchange Foundation (AMINEF) untuk beasiswa Fulbright-Ristekdikti. Beasiswa ini diberikan kepada para dosen di perguruan tinggi Indonesia yang ingin menempuh studi pascasarjana di Amerika Serikat (AS).

Kerja sama Program Beasiswa Bersama dalam skema Beasiswa Fulbright-Ristekdikti sendiri telah dilakukan dengan AMINEF sejak 29 Mei 2009, kemudian diperpanjang pada 29 Mei 2013 sampai dengan 29 Mei 2017. Selanjutnya, pengaturan program beasiswa tersebut kembali diperpanjang sampai dengan 29 Mei 2021, dengan sejumlah pembaruan.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kemristekdikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, MSc, PhD, mengatakan, pada dasarnya pendanaan program beasiswa khusus untuk dosen itu ditanggung Kemristekdikti, namun pengelolaannya menjadi tugas dari AMINEF.

“Mulai dari tahun akademik 2017 ada kuota sampai dengan 50 orang per tahun untuk menjalani program-program doktor. Kedua, sarjana-sarjana senior atau peneliti post-doctoral mulai tahun akademik 2017 akan melakukan riset selama empat sampai enam bulan di universitas terakreditasi di Amerika,” ucapnya, Selasa (30/5).

Ghufron menambahkan, kriteria seleksi program bantuan dana Fulbright-Ristekdikti bagi para dosen Indonesia disesuaikan dengan dasar baku Fulbright bagi mahasiswa PhD dan para visiting research scholars. Adapun Program beasiswa ini diberikan untuk masa studi selama maksimum tiga tahun dengan kemungkinan perpanjang sampai dengan empat tahun.

Pada kesepakatan yang baru, Direktorat Jendral Sumber Daya Iptek Dikti akan menanggung biaya-biaya, meliputi uang kuliah, tiket pesawat pulang-pergi (termasuk biaya perjalanan domestik dari kota asal penerima bantuan dana), tunjangan hidup, tunjangan buku, dan asuransi kesehatan. Dari total bantuan dana tersebut, 30% di antaranya akan digunakan untuk biaya seleksi kandidat, pengawasan, serta orientasi pra dan pasca keberangkatan. Biaya seleksi dan orientasi ini akan ditanggung 22% oleh AMINEF dan 8% dibayarkan oleh Direktorat Jenderal.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Ali Ghufron Mukti selaku Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti bersama Direktur Eksekutif Yayasan AMINEF, Alan H. Feinstein. Penandatanganan juga dihadiri oleh perwakilan dari Kedutaan Besar AS untuk Indonesia, Karen P. Schinnerer.

“Dengan adanya kerja sama ini, saya berharap beasiswa dapat dimanfaatkan oleh para dosen, termasuk peneliti untuk mengembangkan berbagai bidang ilmiah setelah pulang kembali ke Tanah Air,” tukas Feinstein. (ira)

SUMBER: RISTEKDIKTI.GO.ID