Jalan Rusak Dampak Proyek Tol Tanggung Jawab Pusat, CRBC Tidak Serius Tanggapi Keluan Warga

WARTAJATIM.COM : NGANJUK - Jalan rusak dampak proyek Tol sudah satu minggu ini dikeluhkan oleh masyarakat Desa Waung, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk. Keluhan warga sudah sampai di telinga dan meja Camat serta Kepala Desa Waung. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena dampak yang diakibatkan oleh proyek nasional itu menjadi kewenangan kementrian terkait. 

Kepala Desa Waung Heru Fahmi menyatakan terkait jalan rusak kalau diperbaiki pusat tidak mungkin. Kalau adapun laporan jalan rusak seharusnya segera diperbaiki, tapi CRBC lambat merespon. Memang ada anggaran Comunity Sosial Responbility (CSR) yang sudah direalisasikan oleh CRBC, dengan kisaran sekitar 80 persen. 

"Seharusnya jika ada persoalan dengan warga terkait proyek Tol, pihak terkait segera merespon. Meskipun hanya sekedar perbaikan sementara. CRBC terkesan lempar bola," ungkap Kades Heru kepada wartajatim.com, Jumat 23 Maret 2018.

Sebelumnya, masyarakat diwilayah Kabupaten Nganjuk siap-siap berurusan dengan aparat kepolisian jika melakukan protes akibat dampak pembangunan proyek nasional. 

Hal tersebut disampaikan Camat Edi Srianto menyatakan bahwa proyek Tol yang sedang dikerjakan oleh PT. China Road and Bridge Corporation (CRBC) merupakan proyek Nasional. Dimana target penyelesaian sebelum hari raya idul fitri 2018 sudah selesai, karenanya walau ada protes pengerjaan terus dikebut. 

"Proyek nasional, hubungannya dengan kementrian PU Cipta Karya, PU Bina Marga dan sejumlah kementrian terkait tingkat nasional. Jika ada protes jalan, debu dan dampak lain proyek dari masyarakat sekitar agak susah didengarkan, " ungkap Camat Edi kepada wartajatim, Rabu 21 Maret 2018.

Lebih lanjut Camat Edi menyampaikan jika ada protes dari warga apalagi sampai menutup akses jalan pasti akan berhadapan dengan Polres. Kita hanya bisa mengeluh tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena proyek nasional. 

Sebelumnya, Pembangunan Jalan Tol Madiun-Kertosono sebagai proyek Nasional sedang dalam pengerjaan saat ini memiliki berbagai dampak. Dampak kelihatan adanya jalan rusak disejumlah tempat akibat dilalui dengan kendaraan pengangkut bahan material proyek Tol. 

Selain jalan rusak, debu yang diakibatkan kendaraan truck proyek membuat polusi udara. Hal ini diungkapkan Kamto (30) tahun warga Desa Waung pemilik warung yang gelisah dengan debu yang diakibatkan pembangunan proyek itu. 

"Saya merasa dirugikan dengan proyek tol. Soalnya debu dari kendaraan proyek banyak sekali. Pernapasan saya terganggu," ungkap Kamto kepada wartajatim.com, Selasa 20 Maret 2018 siang. 

Berdasar pantauan wartajatim, debu tampak berterbangan menyelimuti jalanan seaaat dilalui kendaraan truck pengangkut material proyek tol. Masyarakat terpaksa menghindar, karena debu tebal membuat pernapasan terganggu dan mata terasa pedih. 

Sukardi (54) tahun,  warga Dusun Santren, Desa Waung, Kecamatan Baron yang mengeluh jalan didepan rumah dan sepanjang jalan Jurusan Baron-Lengkong rusak berat.  Jalan berlubang di sejumlah titik, jika hujan datang terdapat banyak genangan air dan licin. 

"Akibat dilalui kendaraan proyek Tol Jalan berlubang, ada genangan air dan licin. Saya sering nolong orang jatuh, " ungkapnya kesal. 

Memang pernah ada perbaikan dari CRBC sebagai pengerja proyek Tol. Namun, mungkin karena kualitas perbaikan dengan penambalan buruk, jalan yang sudah diperbaiki rusak lagi. 

Disaat terpisah, Raymond dari wakil CRBC menyatakan sudah ada langkah perbaikan jalan. Sifatnya reguler, 2 kilometer sisi kanan dan kiri lokasi pengerjaan Tol, sepanjang jalan lintas Baron - Lengkong. 

"Kalau ada kerusakan, dirinya meminta agar warga bersabar dan berkorban dulu karena proyek nasional, saya hanya orang kecil yang melaksanakan tugas dari pimpinan, " urai Raymond kepada wartajatim.com. (di/kusno)

Index Berita