Gus Sholah Minta Masyarakat Jaga Indonesia di Tahun Politik

INDONESIASATU.CO.ID:

JOMBANG - Tahun 2019 merupakan kegiatan pemilihan umum (Pemilu) ke-12 bagi bangsa Indonesia. Dihitung sejak pemilu pertama pada tahun 1955. Dengan adanya pemilu maka diharapkan Indonesia bisa memiliki pemimpin baru yang membawa negara besar ini lebih maju dan sejahtera.

Harapan ini disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid saat seminar nasional “Aktualisasi Resolusi Jihad Untuk Persatuan Bangsa Menuju Pemilu Damai” di Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Ahad (11/10). Seminar ini dihadiri oleh pemikir Indonesia Yudi Latief, Ketua Pusat Kajian KH Hasyim Asy’ari Mif Rohim dan Kapolda Jawa Timur Irjen Lucky Hermawan.

“Pemilu paling baik itu ya pemilu pertama pada tahun 1955. Saat itu partai dengan dasar Islam, Pancasila dan komunis bisa rukun. Tidak ada nyawa hilang, mobil dibakar dan jujur serta adil itu diterapkan bukan diucapkan. Seperti tertulis dalam puisi Taufiq Ismail. Menurut saya, tahun 2019 yang perlu diperhatikan lebih adalah Pemilihan Presiden (Pilpres),” jelasnya.

Cucu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari ini menjelaskan sejak awal pergantian pucuk pimpinan negara punya kisah sendiri dan terkadang memilukan. Saat Sukarno diganti Suharto ada kasus PKI. Begitu juga saat Suharto diganti Habibie juga diawali demo mahasiswa. Dan selanjutnya digantikan KH Abdurrahman Wahid. Pada pergantian selanjutnya dari Abdurahman ke Megawati juga diawali isu Bulog.

Baru pada tahun 2004, Presiden Indonesia diganti dengan lebih adem dari Megawati ke Susilo Bambang Yudhoyono. Namun sejak tahun 2014, suasana kembali memanas dan memecah dua kelompok besar pendukung. Dan kelompok ini menemukan puncaknya di Pemilihan Gubenur Jakarta. Sehingga suasana kembali meruncing dan lebih keras.

“Pertarungan Pilpres 2019 tak beda jauh dengan Pilpres 2014 dan Pilkada Jakarta 2017. Saya harap kita semua bisa menjaga diri masing-masing. Pendukung kedua belah pihak harus menjaga lisan dan jarinya supaya tidak mengetik kalimat yang menarik emosi. Dan membuat suasana semakin suram,” ungkapnya.

Pengasuh pesantren yang biasa disapa Gus Solah ini menambahkan jika kedua belah pihak pendukung dari pasangan calon presiden tidak punya alasan kuat untuk tidak rukun sesama warga negara. Karena dengan komunikasi yang baik dan rasa saling percaya maka ketegangan akan cair.

“Jangan sampai karena kepentingan sesaat, kepentingan kelompok dan  mengalah kan kepentingan bangsa kita bersama,” tegas Gus Sholah.

Gus Solah juga meminta semua masyarakat menjaga negara Indonesia. Di karena kan Indonesia punya masa depan yang cerah. Oleh karenanya, negara harus dibangun atas sikap persatuan dan kesatuan. “Sampaikan kepada siapapun, untuk jaga Indonesia. Negara kita adalah negara baik. Punya masa depan cerah. Kita tentu tidak ingin masa depan ini hilang. Oleh karena itu jangan rusak hanya karena kepentingan sesaat,” tandasnya.(oji /kla) 

  • Whatsapp

Index Berita