Dagelan Dalam Konfercab HMI Jombang 2018

INDONESIASATU.CO.ID:

JOMBANG - Sudah lama saya ingin mengomentari Konfercab Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jombang yang dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 2018 lalu di Desa Mojongapit, Jombang. Ada rasa gundah dihati saat melihat anak muda yang katanya generasi muda dan masa depan bangsa Indonesia sudah pandai bermain licik untuk meraih jabatan. Saya tak bisa membayangkan bagaimana kelak nanti mereka merebut jabatan saat dewasa. Mungkin dengan limpahan darah, tangisan dan uang. Fenomena yang jelek bagi masa depan organisasi mahasiswa tertua di Indonesia ini. Jeleknya yaitu HMI belum bisa melahirkan pemimpin yang bermental tanding siap kalah-menang tanpa main curang. Padahal HMI sudah lahir sejak 1947 di Jogjakarta.

Dalam pengamatan saya, pelaksaan Konfercab HMI Cabang Jombang kemarin cukup banyak hal ganjal yang saya ketahui dan catat. Saya menulis ini bukan karena saya juga berambisi menjadi ketua HMI Jombang. Melain kan saya menulis karena memang suka menulis. Saya lebih suka menyampaikan perasaan saya lewat tulisan dan diskusi terbuka. Harapan saya nanti dengan tulisan ini bisa mengantarkan saya pada diskusi bersama segenap pengurus HMI Jombang.

Dalam beberapa bulan terakhir saya merangkap dua jabatan di HMI Jombang yaitu Kabid PTKP dan Sekretaris Umum. Namun saya lebih aktif dibidang PTKP. Pemilihan saya sebagai Sekretaris lebih karena masa jabatan pengurus HMI Jombang yang mau habis dan nangung menunjukkan pejabat baru. Pengurus lama yang membidangi sekretaris di tarik ke Pengurus Besar HMI di Jakarta. Saya hanya menjabat beberapa bulan tepatnya dari bulan Mei-Juli 2018.

Dalam rentetan waktu itu, sedikit banyak saya tahu perkembangan HMI Jombang hingga dilaksanakan konfercab pada ahir bulan Juli 2018 lalu. Sejak sebelum puasa Ramadlan 1439 H dari pengurus cabang HMI Jombang memang sudah berencana mengadakan Konfercab. Tapi karena satu dan lain hal Konfercab baru bisa dilakukan pada akhir bulan Juli dengan sebelumnya dilakukan pleno kedua pada tanggal 20 Juli 2018.

Hasil pleno kedua menyepakati bahwa Konfercab akan dilaksanakan empat hari kemudian. Lebih cepat karena mempertimbangkan Ketua Umum Kanda Mundzir akan maju ke pemilihan Ketua Badan Kordinasi (Badko) Jawa Timur (Jatim) sehingga sudah tak bisa fokus pada HMI Jombang. Masalah mulai timbul disini setelah disepakati tanggal konfercab dan tidak disepakati siapa ketua panitianya/OC.

Saya kontak Kanda Mundzir siapa panitianya. Dan dijawab tetap seperti Pleno kemarin yaitu Kanda Rudi dan saya sepakat dalam hal itu. Masalahnya belum selesai, dalam praktik dilapangan semua yang bekerja ternyata Kanda Fattah dan Kholik. Padahal seharusnya Kanda Fattah tidak terlibat dalam hal ini karena dia maju sebagai calon Ketua Umum HMI Jombang. Fotonya pun sudah menyebarkan kemana-mana. Logika mudahnya masak boleh kandidat ketua umum menyiapkan acara untuk pemilihan atas dirinya. Lucu saja, iya kan?

Kelucuan selanjutnya masih berlangsung, entah ini disengaja atau tidak tapi kembali terjadi. Hal ini berkaitan dengan surat mandat utusan dari Komisariat Dewantara. Kesepakatan awal mandatnya diberikan ke kader HMI yang berada di Komis Dewantara tapi karena sejak beberapa tahun lalu Komisariat ini diambil alih oleh cabang maka ada simpang siur siapa yang punya hak menunjukkan wakil Dewantara. Apakah dari pengurus cabang bidang PAO atau kader sendiri. Anehnya, Kanda Fattah sebagai Wasekum PAO menunjuk Kanda Diyon sebagai utusan penuh dari Komis Dewantara tanpa musyawarah dengan kader. Diyon sendiri jarang terlihat aktif di Komis Dewantara. Saya tahu karena mendampingi kader Dewantara sejak setahun terakhir. Saksinya Kanda Disman mahasiswa tahun terakhir jurusan PKN STKIP PGRI Jombang. Bahkan saya pun tak tahu alasan pemilihan Diyon. Komis Dewantara memang sejak awal kepengurusan kami tidak berjalan bagus. Kadernya hanya dua yaitu Kanda Disman dan Kanda Hudu. Sehingga tak cukup membentuk kepengurusan. Kekurangan kader ini membuat cabang mengambil alih kepengurusan agar tetap ada kegiatan. Tapi sejak beberapa waktu lalu kader Dewantara membentuk panitia persiapan penggerak Komis Dewantara dengan ketua Kanda Sulaiman, Sekretaris Yunda Olivia dan Bendahara Kanda Disman. Sesuai rencananya, Dewantara akan kembali menjadi komisariat penuh setelah melakukan LK 1 dan RAK.

Ini kan aneh, kandidat memberikan izin/mandat suara penuh kepada kader. Guyonan yang klasik dan terkesan ngawur. Lantas dimana Kabid PAO nya, setelah saya selidiki ternyata Kabid PAO-nya masih pulang ke Maluku dan anehnya Wasekum PAO tidak kordinasi kepada atasannya untuk masalah Komisariat Dewantara ini. Saya geleng-geleng kepala setelah tahu dagelan menjelang Konfercab HMI Jombang ini. Sebab sebagai bagian dari pengurus HMI Jombang saya sudah memberikan alternatif kepada Ketua Umum Mundzir untuk memberikan rekom itu kepada kader paling lama berproses di Dewantara. Tapi semua saran saya dianggap angin berlalu.

Kelucuan dalam Konfercab tahun 2018 belum juga berakhir, keanehan ini muncul kembali dari Komisariat Gajah Mada. Saya mendapat kiriman nota kesepakatan antara komis Alfaraby yang mendukung Kanda Fattah dengan Komis Gajah Mada yang siap mendukung Kanda Fattah menuju Jombang satu. Sehingga dalam hitungan matematika Fattah sudah menang dan bisa memimpin Jombang setahun kedepan tanpa menyeret Komis Dewantara. Nota kesepakatan ini dimotori oleh salah satu senior HMI bernama Suja’i yang berlatar pendidikan hukum. 

Berdasarkan keterangan dari beberapa peserta Konfercab, senior satu ini gerakannya cukup mencurigakan sebelum menjelang Konfercab Jombang lalu. Ini terlihat dari seringnya ia membagikan foto kandidat. Bahkan banyak peserta Konfercab yang mengatakan jika ia berada di lokasi Konfercab hingga larut malam. Anehnya peserta konfercab dari Gajah Mada selalu ikuti saran dia bahkan pas sidang berlangsung mereka juga sering berkomunikasi disekitar lokasi konfercab. Ini ciri senior yang menolak dewasa menurut saya. Dan disisi lain ada junior HMI yang penakut dan manja. Hidup dibawah ketiak senior. Padahal senior satu ini berdasarkan keterangan dari Kanda Lucky (PAO) pernah dipecat dari HMI Jombang dan saya tidak melihat ada surat pengembalian statusnya.

Saya penasaran dengan Komisariat Gajah Mada dan mencoba mencari titik masalahnya. Betapa kagetnya saya, ternyata surat kesepakatan dukungan ke Fattah tidak diketahui oleh sekretaris umum Gajah Mada Kanda Ramadhani. Padahal saya tahu dia berada di Jombang. Saya pun iseng-iseng kontak kader HMI yang akrab di sapa Rama ini lewat WA. Dan saya menemukan fakta yang lebih menyedihkan ternyata utusan suara penuh yang mewakili Gajah Mada hanya keputusan sepihak dari Ketua Umum Gajah Mada Halimi. Karena tak pernah dibahas dalam rapat harian maupun musyawarah pengurus. Sehingga surat mandat dari Gajah Mada hanya ditanda tangani oleh ketua dan wakil sekretaris padahal sekretaris tidak berhalangan dan ada di Jombang. Dagelan demi dagelan ini membuat saya bisa menebak arah konfercab sebelum selesai. Halimi juga menjadi utusan penuh dari Gajah Mada. Ia mengutus dirinya sendiri tanpa persetujuan pengurus komisariat.

Dagelan selanjutnya semakin membuat perut keroncong dan kepala pusing. Bagaikannya tidak, dalam pemilihan Formature tidak ada penyampaian visi-misi, penyerahan berkas calon kandidat kepada panitia. Karena panitianya sendiri adalah kandidat, lucu kan? Ayo ketawa kawan-kawan. 

Bagi kader HMI Jombang ini tamparan yang keras buat sistem perkaderan dan tata kelola organisasi. HMI Jombang sudah ada sejak 1981 (info Kanda Dwi) dan hingga kini alumninya ada dimana-mana. Namun sejarah panjang HMI Jombang tercoreng oleh sikap anak muda yang ambisius pada kekuasaan. 

Hemat saya, permasalahan ini adalah puncak dari ke salahan tata kelola HMI Jombang selama ini. Dalam setahun kepengurusan HMI Jombang yang saya ikuti kami hanya fokus pada aspek administrasi, gerakan kampus, gerakan di medsos dan mencari kader. Saya akui kami kurang dalam pendalaman materi konstitusi sehingga kader mengganggap konstitusi hanya catatan mati. Sebenarnya tak seratus persen salah pengurus zaman saya, hal ini juga imbas dari dosa masa lalu. HMI Jombang sudah lama tak mengadakan LK 2 dan baru tahun 2018 ini melakukannya dan sukses. Sehingga fokus kepengurusan pada proses perkaderan kemarin kami anggap masalah konstitusi sudah selesai. Kami gencar mengirim kader untuk LK 2 di berbagai daerah seperti Jakarta, Jember, Surabaya, Probolinggo dan Batam. Kader kita juga lumayan bagus. Dalam beberapa kali LK 2 kader Jombang menduduki peringkat dua nasional seperti di Jember dan Jakpustara belum lama ini. Kiat juga mendorong kader untuk mengikuti kegiatan LEPPAMI, SC, TID dan kegiatan lainnya. Ternyata prediksi kami salah, pengiriman kader untuk mengikuti training belum menjadi jaminan kalau mereka Faham konstitusi. Menurut saya, kelemahan kepengurusan zaman saya berada pada konstitusi yang tak diresapi. Kalau kecintaan pada HMI saya acungkan jempol. Untuk bermain isu sudah bagus dan berkali-kali kerjasama dengan instansi pemerintah seperti Pemerintah Kabupaten, Polres Jombang dan organisasi swasta lainnya.

Namun siapa kira, lobang yang selama ini kami anggap remeh malah menjadi petaka buat masa depan HMI Jombang. Dagelan demi dagelan dimainkan kader HMI Jombang karena tak faham aturan yang ada. Saya merasa ikut berdosa, itulah sebabnya saya menulis peristiwa ini agar dijadikan pelajaran buat kedepan bagi pengurus selanjut. 

Kembali ke Konfercab, sesuai prediksi Fattah menangkan pertarungan penuh dagelan ini. Calon lain, Kanda Zein Rizky harus kalah. Kalah bukan tidak ada yang milih tapi pemungutan suara dilakukan saat pendukung Kanda Zein izin keluar arena Konfercab karena saat itu sidang di tunda. Tanpa konfirmasi dan pemanggilan kepada mereka sidang dilakukan. Inilah puncak dagelan daru Konfercab HMI Jombang. Luar biasa.

Bagi rekan-rekan HMI Jombang ayo berubah dari kebiasaan buruk. Jangan terlalu manut pada senior, ini bukan pendapat saya tapi Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI yang bicara bahwa setiap individu itu adalah insan merdeka/independent. Boleh hormat dengan senior HMI tapi bukan bearti manut buta. Karena ADRT HMI menyebutkan kalau HMI organisasi independent. Bantah bila tak cocok dengan hati. Karena bila tunduk total pada senior apa arti hati dan otak yang kita miliki. Dan tak ada bedanya antara kader HMI dan kerbau yang diikat moncongnya lalu ditarik kemana. Belum terlambat dan kita bisa berusaha bersama memperbaiki ini.

Khusus untuk Kana Fattah, alangkah bijaksananya jika mau mengumpulkan semua kader HMI Jombang dan meminta pendapat mereka untuk kemaslahatan HMI kedepan. Tak ada artinya pemimpin tanpa masyarakat atau rakyatnya. Buat apa jadi ketua HMI Jombang tapi lebih dari separo komisariat menolak engkau. Saya sudah dikontak oleh Komisariat Tashwirul Afkar, Gajah Mada (kelompok Sekum), Dewantara,  Majapahit dan Jayawardana. Secara otomatis yang mendukung kepemimpinan anda hanya Komisariat Alfaraby. Selain itu mereka menentang dikau. Apalah arti jabatan bila semua orang berdoa agar kau jatuh dan bersyukur bila kau celaka. Sebagai seorang santri, tentu engkau faham bagaimana cara baik menyelesaikan masalah ini. Ajak mereka ngobrol dan diskusikan baik-baik. Bila keputusan mayoritas tak sesuai selera anggap saja kita belum waktunya menang. Salam dari saudaramu.

Semoga sukses selalu buat kader dibawah, tetap fokus belajar. Dan saya menawarkan kepada kader HMI Jombang untuk membuat forum diskusi rutinan seminggu sekali. Dulu pernah ada tapi mati. Biar kebodohan tak selalu menempel pada diri kita.

Terakhir saya tuliskan dagelan Konfercab HMI Jombang 2018 sebagai berikut:


1.   Rekom Dewantara janggal
2. Tidak ada pnyampaian visi-misi dari tiap kandidat
3. Rekom Komisariat Gajah Mada janggal. Tidak ada tanda tangan sekretaris umum.
4. penyerahan berkas calon kandidat kepada panitia (OC) tidak ada.
5. Internal kepengurusan Komisariat Gajah Mada tidak ada yang tau siapa saja utusan dan peninjau saat Konfercab.
6. Tidak ada surat pemberitahuan atau surat undangan untuk MPK PC
7. Tidak surat pemberintahuan atau konfirmasi terhadap Kabid PAO Kanda Julkifli.
8. Kandidat bisa menjadi utusan penuh.(syarif Abdurrahman/kla)

  • Whatsapp

Index Berita